7 Ciri Ini Menandakan Bahwa Kamu Tidak Percaya Diri February 5, 2020 – Posted in: Insiprasi – Tags: , ,

Kamu yakin, sudah cukup percaya diri menghadapi kehidupan? Atau justru rasa tidak percaya diri atau minder dalam diri kamu lebih besar? Hati-hati, ya; minder bisa menghambat semua impian, tujuan, dan cita-cita yang ingin diwujudkan. Bahkan, minder dapat menjauhkan seseorang dari pergaulan.

Sebagai acuan, berikut ini beberapa ciri yang biasanya menandakan rasa tidak percaya diri. Simak ulasannya, yuk.

Sensitif Terhadap Kritik

 Sensitif Terhadap Kritik

pixabay.com

Kamu tidak suka dikritik atau tersinggung saat orang lain memberikan penilaian negatif tentang dirimu? Kalau iya, berarti kamu belum bisa menerima kelemahan diri. Hal inilah yang menyebabkan rasa percaya diri semakin menurun.

Sebaiknya, ketika ada orang memberikan kritikan, cukup dengarkan. Jika kritikan itu bersifat membangun, kamu bisa menerapkan dalam kehidupan. Sebaliknya, abaikan kritikan destruktif atau yang merusak, tanpa perlu mengeluarkan argumen untuk membantahnya.

Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain

 Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain

pixabay.com

Apakah kamu sering membandingkan diri dengan penampilan selebriti? Hati-hati; suka membandingkan merupakan tanda ketidakpercayaan pada kelebihan diri sendiri. University of Sydney, Macquarie University, dan UNSW Austria pernah melakukan riset terkait kebiasaan tersebut. Ketiganya membuktikan; seseorang sering membandingkan penampilan dengan foto di media sosial atau majalah.

Suka membandingkan diri dengan orang lain juga menandakan kamu sedang mencari kepastian, bahwa kamu lebih baik daripada mereka. Semakin sering melakukan hal itu, rasa percaya dirimu semakin berkurang.

Suka Memamerkan Kelebihan

 Suka Memamerkan Kelebihan

pexels.com

Menceritakan kelebihan atau keberhasilan diri dalam situasi tertentu, tidak dilarang. Semisal, kamu sedang menjadi pembicara seminar, memberikan motivasi, atau mengisi acara terkait prestasi.

Sebaliknya, ketika seseorang suka menceritakan kelebihan tanpa melihat kondisi, berarti ia sedang mencari pengakuan. Si pencerita ingin orang lain percaya bahwa ia adalah orang hebat.

Selalu Menghindari Risiko

 Selalu Menghindari Risiko

pexels.com

Dalam hidup, kamu diberi pilihan, ingin diam di tempat atau melangkah maju. Namun, setiap pilihan ada risikonya. Jika diam, berarti kamu bertahan di zona nyaman. Inilah salah satu ciri ketidakpercayaan pada kemampuan diri. Hingga akhirnya, zona nyaman membuatmu sulit berkembang.

Kamu juga merasa takut melakukan kesalahan manakala harus mengambil risiko? Hal itu menandakan rasa mindermu semakin parah. Kalau sudah demikian, kamu bisa kehilangan kesempatan untuk mencapai kesuksesan.

Lalu, bagaimana caranya supaya berani mengambil risiko?

Pertama, lakukan hal-hal yang sulit. Sebagai contoh, kamu belum bisa berbahasa Inggris, tetapi dosen memintamu ikut lomba. Cobalah untuk menerima tawarannya; dengan catatan, kamu harus kursus bahasa Inggris sebelum pelaksanaan lomba.

Cara kedua, anggaplah risiko di hadapanmu adalah kesempatan terakhir. Karena itu, kamu harus berani mengambil risiko itu dan melakukan apa pun untuk mencapai keberhasilan.

Berusaha Menjelaskan Kesalahan dan Keputusanmu

Berusaha Menjelaskan Kesalahan dan Keputusanmu

pexels.com

Pernahkah kamu salah mengambil langkah atau mengucapkan kata-kata? Jika masih berusaha menjelaskan alasan melakukan kesalahan itu kepada orang lain, berarti kamu tidak ingin dianggap inferior. Padahal, setiap manusia pasti melakukan kesalahan.

Meskipun kesalahan—saat itu—dianggap fatal, tidak selamanya label “salah” melekat dalam dirimu. Ingatlah, pikiran bisa membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih baik atau buruk dari sekarang.

Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

 Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

pexels.com

Kondisi pelik kerap membuat orang panik. Tidak sedikit orang yang mencari kambing hitam untuk menyembunyikan kesalahan. Sebagai contoh, kamu sedang menjalankan proyek membangun jalan. Ketika itu, kamu kurang teliti dalam memeriksa pengeluaran sehingga keuangan berantakan.

Semestinya, masalah tersebut menjadi tanggung jawabmu. Namun, karena kamu kurang percaya diri, kesalahan malah dilimpahkan ke staf keuangan. Meskipun staf yang pertama kali mencatat, tidak berarti kamu bebas menghakimi.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, kamu harus menyadari, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kedua, cobalah untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Ketiga, akui kesalahan kamu di hadapan orang lain dan berjanji tidak mengulangi.

Percayalah, dengan mengakui kesalahan, kamu bisa hidup tenang. Mereka yang mendengarkan pasti lebih bersimpati dan mau menghargai usahamu.

Hidupmu Dikendalikan Opini Orang Lain

Hidupmu Dikendalikan Opini Orang Lain

pexels.com

Selayaknya manusia, kamu pasti ingin menjaga citra diri agar dipandang baik di hadapan orang lain. Kalau berlebihan, hal itu bisa menimbulkan kecemasan akan pendapat orang tentang dirimu. Kamu berusaha mengikuti argumen mereka meski bertentangan dengan batinmu.

Padahal, dengan membiarkan hidupmu dikendalikan opini orang lain, merupakan tanda self conscious. Seseorang dikatakan terkena dampak self conscious ketika kondisi emosinya selalu dipengaruhi pemikiran orang lain. Jika kamu bisa mengelola self conscious, dampaknya pasti positif.

Sebaliknya, ketika self conscious yang muncul negatif, kamu mudah merasa iri dan menghindari interaksi sosial. Rasa malu dan cemas berlebih dengan tindakan di sekelilingmu juga menjadi dampak self conscious. Pada akhirnya, semua itu menjadi titik awal rasa tidak percaya diri.

Demikian beberapa hal yang menandakan kamu memiliki rasa tidak percaya diri. Yuk, hindari supaya hidupmu lebih indah dan bahagia.